Film Baahubali: The Epic
Film Baahubali: The Epic

Review Jujur Film Tentang Baahubali: The Epic

Review Jujur Film Tentang Baahubali: The Epic. Baahubali: The Epic (2025) menjadi salah satu kejutan akhir tahun yang paling dinanti pecinta film India. Disutradarai S.S. Rajamouli, film berdurasi sekitar 225 menit ini merupakan versi re-edit dan remastered dari dua bagian asli—Baahubali: The Beginning (2015) dan Baahubali: The Conclusion (2017)—yang digabung jadi satu pengalaman sinematik utuh. Rilis teatrikal mulai 31 Oktober 2025 di format premium seperti IMAX dan Dolby Cinema, review film ini merayakan 10 tahun saga yang mengubah wajah sinema India dengan pan-Indian release. Prabhas kembali dalam dual role sebagai Amarendra dan Mahendra Baahubali, ditemani Rana Daggubati, Anushka Shetty, Ramya Krishnan, serta cast ikonik lainnya. Dengan visual yang ditingkatkan, sound Dolby Atmos baru, dan satu adegan tambahan, ini bukan sekadar re-release—tapi perayaan ulang yang bikin penonton nostalgia sekaligus terpukau lagi.

Sinopsis dan Struktur Narasi

Cerita mengikuti perjalanan seorang pangeran yang dibesarkan di pengasingan tanpa tahu asal-usulnya, lalu kembali ke kerajaan Mahishmathi untuk membalas dendam ayahnya dan membebaskan ibunya yang dipenjara. Film dibuka dengan frame bayi yang diselamatkan dari ancaman, lalu flashback ke kisah Amarendra Baahubali—raja bijaksana yang dikhianati—dan konflik dengan sepupunya Bhallaladeva yang haus kekuasaan. Bagian pertama fokus pada penemuan identitas Mahendra (Prabhas) melalui Avanthika (Tamannaah Bhatia) dan Devasena (Anushka Shetty), sementara bagian kedua meledak dengan perang besar, pengkhianatan, dan jawaban legendaris atas pertanyaan “Why did Kattappa kill Baahubali?” Rajamouli menggabungkan keduanya dengan mulus, meski memangkas sekitar 80 menit—terutama dari bagian awal yang lebih lambat—sehingga alur terasa lebih dinamis. Elemen mitologi Hindu terasa kuat, dengan tema pengorbanan, pengkhianatan, dan keadilan yang disajikan epik.

Performa Pemeran dan Produksi

Prabhas tetap jadi magnet utama—karismanya sebagai dua generasi Baahubali membuat penonton ikut merasakan perjuangan ayah-anak. Rana Daggubati sebagai Bhallaladeva membawa ancaman yang menyeramkan, sementara Anushka Shetty sebagai Devasena dan Ramya Krishnan sebagai Sivagami memberikan kekuatan emosional yang dalam. Sathyaraj sebagai Kattappa jadi jantung drama dengan loyalitas tragisnya. Produksi Rajamouli masih luar biasa: VFX yang ditingkatkan terlihat lebih mulus, musik M.M. Keeravani (terutama “Dheevara” dan “Nippule Swasaga”) tetap bikin merinding, plus adegan baru dengan Nassar yang menambah kedalaman. Visual Mahishmathi—dari air terjun raksasa hingga kapal terbang berbentuk angsa—terasa seperti campuran Lord of the Rings dan Disney musical. Pengalaman bioskop jadi tak tergantikan, dengan penonton sering bertepuk tangan spontan di momen klimaks.

Kelebihan dan Kekurangan Film Baahubali: The Epic

Kelebihan terbesar adalah skala ambisius yang masih terasa segar setelah 10 tahun—film ini membuktikan Rajamouli sebagai visioner yang menguasai spectacle tanpa kehilangan hati. Pemotongan membuatnya lebih mudah ditonton dalam satu duduk, dengan ritme yang lebih cepat di bagian akhir. Rating Rotten Tomatoes 100% dari kritikus awal dan Metacritic sekitar 79 menunjukkan pujian luas atas grand vision yang timeless. Namun, pemotongan juga jadi kekurangan: beberapa arc romansa dan karakter (seperti Avanthika) terasa terburu-buru, dan buildup emosional yang kuat di versi asli agak hilang. Bagi yang sudah hafal dialognya, ini terasa seperti “best-of” compilation—kurang mendalam tapi lebih intens. Beberapa kritikus menyebutnya terlalu aman, tapi bagi penggemar, justru ini nostalgia sempurna dengan tambahan baru.

Kesimpulan Film Baahubali: The Epic

adalah bukti bahwa saga ini tetap jadi benchmark epik sinema India—sebuah perpaduan megah antara mitologi, aksi, dan emosi yang jarang ditandingi. Meski bukan versi definitif bagi semua orang (karena kehilangan sebagian nuansa asli), film ini sukses menyatukan dua bagian jadi satu pengalaman teatrikal yang memukau, penuh goosebumps, dan layak ditonton di layar lebar. Rajamouli membuktikan lagi kenapa ia disebut master storyteller, dan Prabhas tetap jadi ikon. Bagi penggemar lama, ini reuni emosional; bagi penonton baru, ini pengenalan terbaik ke dunia Mahishmathi. Jangan lewatkan—film seperti ini datang sekali dalam satu generasi. Selamat menonton, dan siap-siap bertepuk tangan di bioskop!

Baca Selengkapnya…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *