Review Film The Handmaiden: Erotis Licik Era Kolonial

Review Film The Handmaiden: Erotis Licik Era Kolonial

Review Film The Handmaiden: Erotis Licik Era Kolonial. The Handmaiden (Agassi) karya Park Chan-wook yang tayang pada 2016 tetap menjadi salah satu film paling memukau dan kontroversial dalam sinema Korea modern. Berlatar di Korea era pendudukan Jepang tahun 1930-an, film ini mengisahkan Sook-hee (Kim Tae-ri), seorang pelayan muda yang direkrut oleh penipu ulung Count Fujiwara (Ha Jung-woo) untuk menjadi pelayan pribadi Hideko (Kim Min-hee), seorang wanita kaya yang akan diwarisi kekayaan besar. Rencana awal adalah membuat Hideko jatuh cinta pada Fujiwara agar ia bisa menguasai harta. Namun, seperti khas gaya Park Chan-wook, cerita berlapis-lapis dan penuh twist yang membalik perspektif penonton. Dengan durasi sekitar 145 menit, The Handmaiden adalah perpaduan sempurna antara thriller psikologis, drama erotis, dan romansa yang licik—semuanya dikemas dengan visual mewah dan narasi tiga babak yang cerdas. Hampir sembilan tahun kemudian, di tengah maraknya film thriller erotis dan narasi berlapis pada 2026, film ini masih terasa segar dan mengguncang: sebuah masterpiece tentang kekuasaan, manipulasi, dan akhirnya cinta yang lahir dari penipuan. BERITA TERKINI

Visual dan Estetika yang Memukau di Film The Handmaiden: Review Film The Handmaiden: Erotis Licik Era Kolonial

Park Chan-wook dan sinematografer Chung Chung-hoon menciptakan dunia visual yang sangat kaya dan sensual. Rumah besar bergaya Jepang-Barat milik paman Hideko difilmkan dengan detail arsitektur yang indah—koridor panjang, ruang baca penuh buku erotis, dan taman yang rapi namun terasa mengancam. Penggunaan warna biru-hijau dingin di malam hari kontras dengan merah hangat di adegan intim, menciptakan rasa ketegangan seksual yang konstan. Adegan-adegan erotis—terutama di babak kedua—difilmkan dengan keindahan artistik yang tinggi, tanpa pernah jatuh ke eksploitasi murahan; kamera bergerak lambat, fokus pada sentuhan, tatapan, dan ekspresi wajah, membuat setiap momen terasa penuh makna. Teknik split-screen dan sudut kamera yang tidak biasa memperkuat rasa “perspektif ganda” yang menjadi inti cerita. Musik Jo Yeong-wook yang menggabungkan nada klasik dengan elemen tradisional Korea-Jepang memperkuat suasana kolonial yang tegang sekaligus memikat.

Tema Kekuasaan, Manipulasi, dan Pembebasan melalui Cinta di Film The Handmaiden

The Handmaiden adalah film tentang kekuasaan yang berlapis-lapis: kekuasaan kolonial Jepang atas Korea, kekuasaan paman atas Hideko, kekuasaan Fujiwara atas Sook-hee, dan akhirnya kekuasaan cinta yang mengalahkan semua manipulasi. Cerita dibagi menjadi tiga babak dengan perspektif berbeda—pertama dari Sook-hee, kedua dari Hideko, ketiga menyatukan keduanya—sehingga penonton terus dihadapkan pada kebenaran yang berubah. Park Chan-wook tidak hanya menampilkan erotis sebagai daya tarik; ia menggunakan seksualitas sebagai alat narasi untuk menunjukkan bagaimana tubuh dan hasrat bisa menjadi senjata sekaligus jalan pembebasan. Adegan paling kuat bukan hanya intim, tapi juga saat kedua wanita mulai memahami bahwa musuh sebenarnya bukan satu sama lain, melainkan sistem patriarki dan kolonial yang menindas mereka. Di akhir, ketika mereka memilih saling mencintai dan melarikan diri, film ini memberikan katarsis yang langka: cinta yang lahir dari penipuan akhirnya menjadi bentuk pemberontakan paling murni terhadap kekuasaan yang menindas. Di era sekarang, ketika diskusi tentang consent, kekuasaan dalam hubungan, dan representasi queer semakin penting, The Handmaiden terasa sangat progresif dan relevan.

Warisan dan Pengaruh yang Masih Kuat: Review Film The Handmaiden: Erotis Licik Era Kolonial

The Handmaiden memenangkan banyak penghargaan di festival internasional, termasuk Technical Grand Prize di Cannes, dan menjadi salah satu film Korea paling sukses secara kritis di luar negeri. Pengaruhnya terasa di banyak karya selanjutnya yang menggabungkan thriller erotis dengan komentar sosial—dari The Handmaiden sendiri yang menginspirasi film seperti Decision to Leave (juga Park Chan-wook) hingga serial seperti The Glory atau karya-karya queer internasional. Restorasi dan penayangan ulang di bioskop arthouse serta platform streaming terus menarik penonton baru, terutama di kalangan yang mencari cerita cinta yang kompleks dan tidak konvensional. Di 2026, ketika film dengan tema kekuasaan, seksualitas, dan pembebasan diri semakin diminati, The Handmaiden sering disebut kembali sebagai salah satu karya paling berani dan indah tentang cinta yang lahir dari penipuan.

Kesimpulan

The Handmaiden adalah film yang berhasil menggabungkan erotis, thriller, dan drama menjadi satu kesatuan yang memukau—sebuah cerita tentang kekuasaan, manipulasi, dan akhirnya cinta yang membebaskan. Park Chan-wook, dengan visual megah, narasi berlapis, dan penampilan luar biasa dari Kim Min-hee serta Kim Tae-ri, menciptakan karya yang lambat membara tapi penuh gairah. Hampir sembilan tahun berlalu, film ini masih relevan karena bicara tentang hal yang abadi: bagaimana cinta bisa lahir dari kebohongan, bagaimana kekuasaan bisa dijatuhkan melalui keintiman, dan bagaimana dua orang yang terluka bisa saling menyembuhkan. Jika Anda belum menonton ulang atau baru pertama kali, siapkan waktu tiga jam dan ruangan gelap—karena setelah kredit bergulir, Anda mungkin akan memandang cinta dengan cara yang berbeda. Karena seperti yang ditunjukkan film ini: cinta abadi bukan tentang kejujuran dari awal, melainkan tentang keberanian untuk tetap memilih satu sama lain meski segalanya dimulai dari penipuan. Sebuah film yang tak hanya indah, tapi juga sangat menggugah.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *