Review Film Soul: Jiwa dan Makna Hidup yang Mendalam

Review Film Soul: Jiwa dan Makna Hidup yang Mendalam

Review Film Soul: Jiwa dan Makna Hidup yang Mendalam. Soul, film animasi Pixar yang dirilis pada akhir 2020, tetap menjadi sumber inspirasi hingga awal 2026. Meskipun telah berlalu lebih dari lima tahun sejak tayang perdana di Disney+, karya ini sering dibahas ulang berkat tema mendalam tentang pencarian makna hidup, terutama di era di mana banyak orang merefleksikan passion pasca-pandemi. Disutradarai Pete Docter, dengan suara Jamie Foxx sebagai Joe Gardner dan Tina Fey sebagai 22, Soul menjadi film Pixar pertama dengan protagonis Afrika-Amerika. Durasi 100 menit ini memenangkan dua Oscar pada 2021: Best Animated Feature dan Best Original Score. Rating IMDb 8.0/10 serta Rotten Tomatoes 95% mencerminkan apresiasi global, termasuk di Indonesia di mana streaming semakin mendominasi hiburan keluarga. Dengan latar jazz New York dan elemen metafisik, film ini seperti reminder bahwa hidup bukan sekadar tujuan besar, tapi menikmati momen kecil—pesan yang semakin relevan di tengah tekanan modern, membuatnya sering direkomendasikan untuk tontonan reflektif atau diskusi filosofis. BERITA VOLI

Sinopsis dan Plot Utama: Review Film Soul: Jiwa dan Makna Hidup yang Mendalam

Cerita berpusat pada Joe Gardner, guru musik sekolah menengah yang bercita-cita jadi musisi jazz profesional. Setelah mendapat kesempatan tampil di klub ternama, Joe jatuh ke selokan dan mati secara tragis, membawa jiwanya ke Great Beyond. Menolak nasibnya, ia kabur ke Great Before, realm di mana jiwa baru dibentuk sebelum lahir ke Bumi. Di sana, Joe ditugaskan membimbing 22, jiwa bandel yang tak ingin hidup karena merasa dunia membosankan. Mereka berpetualang, termasuk kembali ke Bumi melalui kesalahan—Joe masuk ke tubuh kucing, sementara 22 mengendalikan tubuh Joe. Plot mengeksplorasi pencarian “spark” atau passion yang memberi jiwa tujuan, dengan subplot seperti pertemuan Moonwind, mistikus yang membantu jiwa tersesat di antara dunia. Alur narasi cepat di paruh pertama, penuh humor situasional, lalu beralih ke emosional di tengah saat Joe merefleksikan hidupnya melalui flashback. Konflik klimaks muncul saat Joe harus memilih antara mimpi jazz dan membantu 22, diselesaikan dengan twist metafisik yang hangat. Pacing stabil meski bagian abstrak terasa kompleks untuk penonton muda, tapi durasi singkat membuatnya mudah dinikmati. Secara keseluruhan, plot inovatif, menggabungkan elemen komedi, drama, dan filosofi tanpa terjebak klise.

Voice Acting dan Chemistry Pemeran: Review Film Soul: Jiwa dan Makna Hidup yang Mendalam

Jamie Foxx sebagai Joe Gardner bersinar dengan suara penuh passion—ia menyampaikan euforia musik dan keputusasaan eksistensial dengan autentik, terutama di adegan solo piano yang terasa personal. Aktor pemenang Oscar ini menambahkan kedalaman budaya Afrika-Amerika, membuat Joe relatable sebagai pria paruh baya dengan mimpi tertunda. Tina Fey sebagai 22 membawa energi sarkastis dan lucu, mengubah jiwa abstrak menjadi karakter ikonik; chemistry mereka seperti duo komedi, dengan banter tajam yang mengalir natural di setiap interaksi. Pemeran pendukung tak kalah kuat: Questlove sebagai Curly, drummer yang mendukung Joe, menambah vibe jazz autentik; Phylicia Rashad sebagai ibu Joe memberikan kehangatan keluarga yang menyentuh; sementara Angela Bassett sebagai Dorothea Williams, saxofonist legendaris, memancarkan karisma kuat meski peran singkat. Graham Norton sebagai Moonwind menambahkan elemen quirky dengan aksen Irlandia yang menghibur. Ensemble cast ini membuat dinamika terasa hidup, terutama di Great Before dengan Jerry, konselor jiwa yang disuarakan Daveed Diggs dan Wes Studi. Kritik minor pada beberapa dialog ekspositori yang terdengar kaku, tapi akting suara secara keseluruhan menjadi jangkar emosional, membuat film ini lebih dari animasi biasa—seperti pertunjukan teater dengan vokal sebagai bintang utama.

Tema dan Elemen Visual

Soul mengeksplorasi tema jiwa, makna hidup, dan pentingnya menikmati momen sehari-hari—bukan hanya passion besar seperti musik, tapi hal sederhana seperti angin sepoi atau irisan pizza. Film ini bijak membahas kematian dan eksistensi tanpa menakutkan, menjadikannya cocok untuk semua umur sambil mendorong diskusi filosofis tentang apa yang membuat hidup berharga. Elemen visual Pixar memukau: Great Before digambarkan dengan desain abstrak, garis neon bercahaya, dan warna pastel yang kontras tajam dengan New York realistis, lengkap detail seperti tekstur rambut Joe yang akurat untuk representasi budaya. Animasi sequences jazz hidup berkat kolaborasi dengan musisi Jon Batiste, sementara soundtrack Trent Reznor dan Atticus Ross memadukan jazz energik dengan ambient etereal, memenangkan Oscar karena kemampuannya memperkuat nuansa emosional. Humor muncul dari situasi absurd seperti jiwa di tubuh hewan, sementara momen dramatis seperti zona “lost souls” menyentuh hati dengan visual gelap tapi penuh harapan. Di 2026, tema ini semakin resonan dengan tren kesehatan mental global, di mana banyak yang mencari keseimbangan antara ambisi dan kebahagiaan sederhana. Meski ada kritik pada representasi spiritual yang terkadang ambigu, film ini berhasil menyegarkan genre animasi dengan kedalaman, membuatnya seperti campuran Inside Out dan Coco tapi dengan sentuhan jazz unik.

kesimpulan

Soul adalah eksplorasi jiwa dan makna hidup yang mendalam, ideal untuk mereka yang butuh inspirasi di tengah rutinitas 2026. Dengan plot inovatif, akting suara memikat, dan visual brilian, Pixar menciptakan karya timeless yang layak ditonton ulang, meski bukan tanpa kekurangan seperti kompleksitas untuk anak kecil. Pesan tentang menghargai momen kecil membuatnya relevan abadi, terutama bagi penggemar Jamie Foxx atau Tina Fey. Jika belum merasakan jazz Joe, ini saatnya—jaminan renungan positif dan senyum setelahnya.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *