Review Film Seperti Dendam, Rindu Dibayar: Mencari Jati Diri

Review Film Seperti Dendam, Rindu Dibayar: Mencari Jati Diri

Review Film Seperti Dendam, Rindu Dibayar: Mencari Jati Diri. Seperti Dendam, Rindu Dibayar Tuntas (2024) karya sutradara Edwin tetap menjadi salah satu film Indonesia paling banyak dibicarakan sejak tayang perdana di Festival Film Internasional Rotterdam dan rilis nasional pada akhir 2024. Film berdurasi 119 menit ini diadaptasi dari novel Eka Kurniawan dengan judul yang sama, dibintangi Ladya Cheryl sebagai Ajo Kawir dan Reza Rahadian sebagai petinju misterius. Hingga awal 2026, film ini masih sering muncul dalam diskusi tentang representasi maskulinitas toksik, pencarian identitas, dan kekerasan sebagai cara melampiaskan luka batin. Dengan pendekatan visual yang kuat dan narasi yang tidak biasa, Seperti Dendam berhasil menyajikan cerita tentang “laki-laki yang tidak bisa menangis” dengan cara yang jujur, gelap, sekaligus penuh empati. INFO CASINO

Sinopsis dan Struktur Narasi yang Non-Linier: Review Film Seperti Dendam, Rindu Dibayar: Mencari Jati Diri

Film ini mengisahkan Ajo Kawir (Ladya Cheryl), seorang pemuda di desa kecil Jawa yang dikenal sebagai petarung tangguh dan tidak pernah menangis—bahkan saat ayahnya meninggal atau saat ia dipukuli habis-habisan. Ia hidup dengan keyakinan bahwa “laki-laki sejati tidak menangis”. Ketika ia jatuh cinta pada seorang perempuan misterius bernama Jelita, Ajo mulai menghadapi konflik batin yang selama ini ia kubur dalam kekerasan. Cerita tidak berjalan linier; Edwin menggunakan lompatan waktu dan perspektif bergantian untuk mengungkap luka masa kecil Ajo, pertemuan dengan tokoh-tokoh aneh, dan perjuangan batinnya yang semakin dalam.
Struktur non-linier ini membuat penonton perlahan memahami bahwa “tidak bisa menangis” bukan kehebatan, melainkan gejala trauma yang belum terselesaikan. Film ini tidak terburu-buru memberikan jawaban; ia membiarkan penonton ikut merasakan kebingungan, amarah, dan akhirnya kerapuhan Ajo.

Penampilan Ladya Cheryl dan Reza Rahadian: Review Film Seperti Dendam, Rindu Dibayar: Mencari Jati Diri

Ladya Cheryl memberikan penampilan paling kuat dalam kariernya sebagai Ajo Kawir. Ia berhasil menyampaikan karakter yang keras di luar tapi rapuh di dalam tanpa jatuh ke stereotip “lelaki tangguh”. Ekspresi wajahnya yang minim bicara, tatapan kosong, dan gerakan tubuh yang penuh ketegangan membuat penonton bisa merasakan beban emosional yang dipikul Ajo. Reza Rahadian sebagai petinju misterius muncul di paruh kedua film dengan intensitas yang luar biasa—perannya singkat tapi sangat berkesan, terutama dalam adegan pertarungan yang brutal sekaligus penuh makna.
Pemeran pendukung seperti Christine Hakim (sebagai ibu Ajo) dan Asmara Abigail (sebagai Jelita) juga memberikan warna emosional yang kuat, membuat dinamika keluarga dan hubungan percintaan terasa hidup dan menyakitkan.

Tema Utama: Maskulinitas Toksik dan Pencarian Jati Diri

Seperti Dendam bukan sekadar cerita balas dendam atau kekerasan; ia adalah potret maskulinitas toksik yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ajo dibesarkan dengan ajaran bahwa laki-laki tidak boleh menangis, tidak boleh lemah, dan harus selalu menang—ajaran yang akhirnya membuatnya kehilangan kemampuan untuk merasakan dan mengekspresikan emosi. Film ini menunjukkan bagaimana norma tersebut tidak hanya merusak diri sendiri, tapi juga orang di sekitar—terutama perempuan yang menjadi korban dari kemarahan yang tidak tersalurkan.
Pencarian jati diri menjadi tema utama: Ajo harus belajar bahwa menjadi “laki-laki sejati” bukan berarti tidak pernah menangis atau tidak pernah kalah, melainkan berani menghadapi luka batin dan menerima kerapuhan diri. Edwin tidak memberikan solusi mudah; ia membiarkan penonton melihat proses yang panjang dan menyakitkan, dengan akhir yang terbuka tapi penuh harapan kecil.

Kesimpulan

Seperti Dendam, Rindu Dibayar Tuntas adalah film yang gelap, jujur, dan sangat manusiawi—menyajikan kisah pencarian jati diri di tengah budaya maskulinitas toksik dengan cara yang tidak menghakimi tapi juga tidak memanjakan. Penampilan Ladya Cheryl dan Reza Rahadian luar biasa, sementara arahan Edwin berhasil menciptakan karya yang terasa sangat Indonesia sekaligus universal. Film ini bukan sekadar drama kekerasan; ia adalah cermin bagi masyarakat yang masih mengukur kejantanan dengan air mata yang tidak pernah jatuh. Hingga 2026, film ini tetap relevan karena terus mengajak penonton bertanya: apa yang terjadi ketika laki-laki dilarang merasa? Seperti Dendam bukan film yang mudah ditonton—tapi itulah kekuatannya. Ia membuat penonton tidak hanya menyaksikan, tapi juga merasakan beban emosional yang selama ini disembunyikan di balik topeng “laki-laki kuat”. Sebuah karya yang menggetarkan dan sangat layak untuk dibahas serta diingat.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *