Review Film Return of the Ninja. Film Revenge of the Ninja yang dirilis pada 1983 tetap jadi salah satu puncak demam ninja era 80-an, dan sering disebut sebagai “Return of the Ninja” di beberapa konteks nostalgia. Disutradarai oleh Sam Firstenberg, film ini bintangi Sho Kosugi sebagai Cho Osaki, ninja yang coba tinggalkan masa lalu kekerasan setelah keluarganya dibantai di Jepang. Ia pindah ke Amerika bersama ibu dan anak kecilnya untuk buka galeri seni, tapi ternyata terlibat bisnis narkoba tanpa sadar melalui boneka impor. Saat pengkhianatan terungkap, Cho harus kembali pakai skill ninjanya untuk lindungi anaknya dan balas dendam. Dengan aksi brutal dan elemen kultus khas Cannon Films, movie ini campur tragedi keluarga dengan kekerasan over-the-top. BERITA BASKET
Plot dan Karakter yang Ikonik: Review Film Return of the Ninja
Cerita Revenge of the Ninja dibuka dengan pembantaian keluarga Cho di Jepang oleh ninja saingan—adegan brutal yang langsung set tone gelap. Cho selamatkan hanya ibunya dan anak kecil Kane (diperankan putra asli Kosugi), lalu pindah ke Amerika atas saran teman bisnis Braden. Di sana, ia jalani hidup damai sambil ajar anaknya sedikit bela diri. Tapi Braden ternyata pakai galeri Cho untuk selundup heroin, dan saat Kane saksi, Braden—yang juga ninja berbaju perak—culik anak itu. Cho dibantu detektif lokal lawan mafia dan ninja jahat. Karakter Cho pendiam tapi mematikan, Kane kecil yang sudah lincah, dan nenek ninja yang backflip jadi highlight lucu. Villain Braden over-the-top dengan topeng demon, bikin konflik terasa seperti kartun dewasa.
Aksi Brutal dan Nuansa 80-an: Review Film Return of the Ninja
Aksi di film ini jadi yang terbaik di trilogi ninja Cannon: dari pembantaian awal dengan shuriken dan pedang, sampai final rooftop epik antara Cho dan ninja demon. Sho Kosugi rancang sendiri banyak senjata, bikin pertarungan terasa autentik—tendangan tinggi, lempar bintang, dan duel katana penuh darah semprot. Ada momen konyol seperti nenek lawan pembunuh atau Kane kecil hajar anak nakal, tapi justru tambah charm. Musik synth 80-an, editing cepat, dan stunt berani (termasuk anak kecil) beri energi tinggi. Meski gore berlebih dan efek murah, aksi tetap mengalir tanpa bosan, dengan slogan ikonik “only a ninja can stop a ninja”.
Warisan Kultus dan Penerimaan
Saat rilis, Revenge of the Ninja sukses box office besar meski kritikus campur—banyak puji koreografi Kosugi tapi kritik plot tipis dan acting standar. Kini, ia punya status kultus kuat sebagai ninja movie 80-an terbaik, sering disebut lebih baik dari Enter the Ninja karena fokus pada Kosugi sebagai hero. Pengaruhnya besar pada film aksi berikutnya, dengan Kane Kosugi lanjut karier martial arts. Di era streaming sekarang, film ini sering direkomendasikan untuk nostalgia atau “so bad it’s good”—meski sebenarnya cukup solid untuk genre B-movie.
Kesimpulan
Revenge of the Ninja adalah paket aksi ninja 80-an klasik dengan balas dendam brutal, keluarga ninja, dan pertarungan mematikan yang tak terlupakan. Meski plot sederhana dan cheesy di beberapa bagian, performa Sho Kosugi serta aksi intens bikin film ini abadi sebagai kultus favorit. Bagi penggemar martial arts retro atau demam ninja Cannon, ini wajib tonton—bukti bahwa ninja bisa balik kapan saja dengan gaya over-the-top yang menghibur. Di tahun 2026, ia tetap layak ulang untuk dosis adrenalin murni tanpa pretensi.

