Review Film More Than Blue. Film More Than Blue versi Korea yang dirilis pada 2018 lalu, kembali menjadi bahan perbincangan di akhir 2025 ini sebagai salah satu melodrama romantis paling pilu yang pernah dibuat. Disutradarai oleh Gavin Lin, cerita ini merupakan remake dari film Taiwan 2009, mengisahkan K dan Cream, dua orang yatim piatu yang hidup bersama seperti keluarga tapi saling menyimpan perasaan mendalam. Dibintangi Lee Dong-wook dan Lee Da-hee dalam versi asing pertama mereka sebagai pasangan utama, film ini langsung sukses besar saat tayang berkat kemampuannya membuat penonton menangis deras. Kini, banyak penonton baru menemukannya melalui tayangan digital, membuatnya terasa relevan lagi dengan tema pengorbanan cinta yang tak egois dan penyesalan abadi. BERITA BOLA
Sinopsis dan Alur Emosional: Review Film More Than Blue
More Than Blue bercerita tentang K, produser musik berbakat yang menyembunyikan penyakit terminalnya, dan Cream, asistennya yang setia sejak remaja. Mereka tinggal bersama, saling mendukung seperti saudara, tapi K diam-diam mencintai Cream dan memilih mengorbankan dirinya dengan mencarikan pasangan yang layak untuknya agar Cream bahagia setelah ia pergi. Ia bahkan menyembunyikan kondisi kesehatannya sambil mendorong Cream menikah dengan fotografer yang baik hati.
Alur cerita dibingkai dengan narasi flashback dari sudut pandang orang-orang di sekitar mereka setelah K meninggal, perlahan mengungkap kedalaman pengorbanannya. Film ini penuh twist emosional, dari momen manis sehari-hari hingga klimaks yang menghancurkan hati. Durasi sekitar 106 menit terasa singkat tapi padat, pacing lambat di awal untuk membangun ikatan mereka, lalu semakin intens menuju akhir yang tak terhindarkan. Endingnya meninggalkan rasa haru yang lama, tanpa harapan palsu tapi penuh makna tentang cinta sejati.
Penampilan Aktor dan Chemistry: Review Film More Than Blue
Lee Dong-wook memberikan penampilan karir terbaik sebagai K, menampilkan pria pendiam yang tersenyum di luar tapi hancur di dalam, dengan ekspresi mata yang menyampaikan rasa sakit dan cinta tanpa banyak dialog. Ia berhasil membuat pengorbanan K terasa tulus dan menyakitkan sekaligus. Lee Da-hee sebagai Cream tampil mengharukan, wanita kuat yang polos dalam urusan cinta, dengan transformasi emosi yang natural dari ceria menjadi hancur saat menyadari kebenaran.
Chemistry keduanya luar biasa, terasa seperti orang yang benar-benar hidup bersama bertahun-tahun – dari obrolan santai di rumah hingga momen diam yang penuh makna. Meski hubungan mereka bukan romansa konvensional, getar perasaan itu terasa kuat dan menyentuh. Pemain pendukung seperti fotografer yang diperankan Lee Chung-ah juga solid, menambah lapisan tanpa mencuri fokus dari duo utama.
Visual dan Musik Pendukung
Sinematografi film ini sederhana tapi indah, dengan warna hangat di momen bahagia bersama dan tone lebih dingin saat rahasia mulai terungkap. Setting rumah kecil mereka dan studio musik digambarkan intim, membuat penonton merasa seperti bagian dari kehidupan sehari-hari. Penggunaan close-up saat K menyembunyikan air mata atau Cream tersenyum paksa berhasil menangkap emosi halus yang sulit diungkapkan kata-kata.
Soundtrack menjadi salah satu kekuatan terbesar, dengan lagu-lagu ballad melankolis yang muncul di momen kunci, termasuk tema utama yang ikonik hingga kini sering diputar oleh penggemar. Musik instrumental piano mendampingi adegan sedih dengan pas, memperkuat rasa pilu tanpa terasa manipulatif. Kombinasi visual dan audio ini membuat film terasa timeless dan mudah membangkitkan air mata.
Kesimpulan
More Than Blue tetap menjadi melodrama romantis Korea yang paling menghancurkan hati, berhasil menggambarkan cinta sebagai pengorbanan total tanpa mengharapkan balasan. Meski plotnya penuh kesedihan dan mungkin terasa berat bagi sebagian, eksekusi yang tulus dari aktor dan sutradara membuatnya sulit dilupakan. Film ini mengajarkan bahwa cinta terbesar kadang justru melepaskan orang yang dicintai demi kebahagiaannya. Di akhir 2025 ini, sangat direkomendasikan ditonton ulang dengan tisu berlimpah, terutama saat ingin merasakan emosi mendalam yang langka. Bagi yang belum pernah, siapkan mental kuat karena ia akan meninggalkan bekas lama. Setelah bertahun-tahun, film ini masih membuktikan bahwa ada cinta yang lebih dalam daripada biru langit itu sendiri.

