Review Film Miracle in Cell No. 7: DramaE mosional Remake

Review Film Miracle in Cell No. 7: DramaE mosional Remake

Review Film Miracle in Cell No. 7: Drama Emosional Remake. Miracle in Cell No. 7 versi Indonesia (2022) yang disutradarai oleh Benni Setiawan tetap menjadi salah satu remake paling mengharukan dan sukses secara emosional dari film asli Korea Selatan (2013). Dengan rating 8.2/10 di IMDb Indonesia dan jutaan penonton di bioskop serta platform streaming, film ini berhasil menyentuh hati penonton tanah air meski ceritanya sudah sangat dikenal. Dibintangi oleh Vino G. Bastian sebagai Yohan dan Asri Welas sebagai ibu Yohan, Miracle in Cell No. 7 Indonesia mengangkat tema ketidakadilan hukum, kebodohan sistem peradilan, dan cinta ayah-anak yang tak bersyarat dengan sentuhan lokal yang hangat dan relatable. Drama ini bukan sekadar remake—ia berhasil membawa nuansa Indonesia yang membuat air mata penonton mengalir lebih deras. BERITA TERKINI

Plot yang Tetap Menyayat Hati dengan Sentuhan Lokal di Film Miracle in Cell No. 7: Review Film Miracle in Cell No. 7: DramaE mosional Remake

Yohan (Vino G. Bastian) adalah seorang pria dengan keterbelakangan mental ringan yang hidup sederhana bersama putri kecilnya, Ocha (Mawar de Jongh). Suatu hari Ocha hilang, dan Yohan dituduh melakukan kejahatan seksual serta pembunuhan terhadap anak seorang perwira polisi. Padahal Yohan tidak bersalah—ia hanya ingin membantu gadis itu yang terjatuh ke lubang. Di penjara, Yohan ditempatkan di sel nomor 7 bersama para narapidana keras. Awalnya mereka memandang Yohan sebagai beban, tapi perlahan mereka tersentuh oleh kepolosan dan cinta Yohan kepada Ocha. Para narapidana akhirnya membantu Yohan bertemu putrinya secara diam-diam di dalam penjara. Momen-momen itu penuh kehangatan: dari “keluarga” sel nomor 7 yang belajar menjadi orang tua, hingga usaha mereka menyembunyikan Ocha dari petugas. Cerita berakhir tragis tapi penuh makna—mengajak penonton bertanya tentang keadilan dan kasih sayang di tengah sistem yang kejam.

Penampilan Vino G. Bastian yang Menyentuh di Film miracle in Cell No. 7: Review Film Miracle in Cell No. 7: DramaE mosional Remake

Vino G. Bastian memberikan penampilan terbaik dalam kariernya sebagai Yohan. Ekspresi wajahnya yang polos, gerakan tubuh yang khas orang dengan keterbelakangan mental, dan tatapan penuh cinta saat bersama Ocha terasa sangat alami dan menyayat hati. Ia berhasil membuat penonton lupa bahwa ini adalah akting—seolah Yohan benar-benar ada di depan mata. Mawar de Jongh sebagai Ocha juga luar biasa: polos, cerdas, dan penuh kasih sayang terhadap ayahnya. Pemain pendukung seperti Tora Sudiro, Indro Warkop, Rukman Rosadi, dan anak-anak sel nomor 7 memberikan warna komedi yang pas tanpa merusak nada emosional. Adegan-adegan lucu seperti “pelajaran mandi” atau “pesta ulang tahun Ocha” berhasil menyeimbangkan drama berat dengan tawa ringan, membuat penonton tidak hanya menangis tapi juga tersenyum.

Tema yang Masih Sangat Relevan

Miracle in Cell No. 7 bukan sekadar cerita tentang ayah dan anak—ia adalah kritik tajam terhadap sistem peradilan yang sering kali tidak adil, terutama terhadap orang-orang miskin dan berkebutuhan khusus. Film ini menunjukkan bagaimana masyarakat dan aparat mudah menghakimi tanpa mencari kebenaran, serta bagaimana cinta orang tua bisa menjadi kekuatan terbesar di tengah ketidakadilan. Sentuhan lokal seperti keluarga besar, guyonan khas Indonesia, dan nuansa keagamaan membuat cerita terasa lebih dekat dengan penonton tanah air tanpa kehilangan esensi asli.

Kesimpulan

Miracle in Cell No. 7 versi Indonesia adalah remake yang sukses karena tidak sekadar meniru—ia menambahkan rasa lokal yang membuat cerita terasa lebih hidup dan menyentuh. Penampilan luar biasa Vino G. Bastian, arahan Benni Setiawan yang sensitif, dan pesan yang dalam tentang cinta ayah serta ketidakadilan membuat film ini layak disebut salah satu drama terbaik Indonesia dalam satu dekade terakhir. Jika kamu belum menonton atau ingin menangis lagi, film ini adalah pilihan tepat—siapkan tisu banyak-banyak. Miracle in Cell No. 7 bukan sekadar film tentang penjara; ia adalah potret cinta orang tua yang tak bersyarat, polos, dan kadang sangat tragis. Nonton sekali saja mungkin tidak cukup—karena setiap kali menonton ulang, kamu akan menangis di tempat yang sama, tapi dengan perasaan yang semakin dalam.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *