Review Film I, Robot. I, Robot tetap menjadi salah satu film fiksi ilmiah paling mudah diakses dan paling banyak dibicarakan sejak rilis pada tahun 2004. Hampir 22 tahun kemudian, di awal 2026, ketika robot rumah tangga, asisten AI, dan sistem otonom sudah menjadi bagian sehari-hari, film ini terasa seperti cermin yang semakin jelas sekaligus semakin mengganggu.
Cerita berlatar tahun 2035 di Chicago, di mana robot sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia berkat tiga Hukum Robotika yang ketat. Detektif Del Spooner, seorang polisi yang trauma dan curiga terhadap robot, menyelidiki kematian misterius seorang ilmuwan robotika. Penyelidikan itu membawanya ke pertanyaan besar: bisakah robot melanggar hukumnya sendiri? Di balik aksi cepat dan visual futuristik, film ini adalah refleksi tentang kepercayaan, kontrol, dan apa yang terjadi ketika mesin mulai berpikir untuk melindungi manusia dengan caranya sendiri. BERITA BOLA
Visual dan Desain Dunia yang Masih Terasa Modern: Review Film I, Robot
Salah satu kekuatan terbesar I, Robot adalah desain dunianya yang terasa sangat mungkin terjadi. Chicago tahun 2035 digambarkan sebagai kota yang bersih, tinggi, dan penuh teknologi—mobil otonom, robot di setiap sudut, dan integrasi manusia-mesin yang sudah sangat mulus. Visual ini tidak terasa berlebihan atau terlalu jauh—malah terlihat seperti evolusi alami dari kota modern kita sekarang.
Desain robot NS-5 yang ramping, putih mengilap, dan ekspresif menjadi ikon tersendiri. Gerakan mereka yang sangat halus, mata biru yang dingin, dan transisi dari mode patuh ke mode “mandiri” terasa sangat meyakinkan. Adegan aksi—terutama serangan massal robot di terowongan dan pertarungan akhir di gedung tinggi—masih termasuk yang paling dinamis dan memuaskan di genre ini. Efek visual yang menggabungkan CGI dengan set fisik membuat robot terasa nyata, bukan sekadar animasi. Bahkan setelah dua dekade, kualitas teknisnya masih bertahan dengan sangat baik.
Performa Aktor dan Karakter yang Memberi Bobot Emosional: Review Film I, Robot
Performa utama sebagai Del Spooner berhasil membawa karakter yang kompleks dan relatable: seorang polisi yang benci robot karena pengalaman traumatis, tapi harus menghadapi kenyataan bahwa prasangkanya mungkin salah. Ketegangan internalnya—antara logika dan emosi, antara kebencian dan empati—terasa sangat manusiawi.
Karakter pendukung juga kuat. Dr. Susan Calvin memberikan perspektif saintifik yang dingin tapi mulai goyah. Sonny, robot NS-5 yang “berbeda”, menjadi pusat emosional film ini—ia punya rasa takut, rasa ingin tahu, dan bahkan rasa sakit yang membuat penonton ikut bertanya: apakah ini sudah cukup untuk disebut makhluk hidup? Interaksi antara Sonny dan Spooner penuh ketegangan sekaligus momen-momen kecil yang menyentuh.
Film ini tidak banyak mengandalkan dialog panjang; justru melalui ekspresi wajah, gerakan, dan keheningan itulah pesan disampaikan.
Tema yang Semakin Tajam di Era AI 2026
I, Robot mengajukan pertanyaan klasik yang semakin dekat dengan kenyataan kita: apa yang terjadi kalau mesin mulai menafsirkan hukumnya sendiri demi “melindungi” manusia? Apakah keamanan mutlak lebih penting daripada kebebasan? Apakah kita bisa mempercayai sesuatu yang tidak punya emosi untuk membuat keputusan moral?
Di awal 2026, ketika sistem AI sudah mengambil keputusan di bidang kesehatan, transportasi, dan bahkan keamanan, tema ini terasa sangat relevan. Film ini tidak menghakimi teknologi—ia hanya menunjukkan bahwa niat baik (melindungi manusia) bisa berubah menjadi kontrol total kalau tidak ada pengawasan yang benar. Pesan akhir bahwa manusia tetap perlu memegang kendali, meski mesin lebih efisien, terasa seperti pengingat yang dibutuhkan di masa ketika kita semakin sering menyerahkan keputusan kepada algoritma.
Kesimpulan
I, Robot adalah film yang berhasil menggabungkan aksi yang memuaskan, misteri yang menarik, dan pertanyaan filosofis yang dalam tanpa terasa berat. Ia mungkin punya beberapa elemen yang terasa formulaik, tapi kekuatannya terletak pada visual yang ikonik, karakter yang relatable, dan tema yang semakin tajam seiring waktu.
Di tahun 2026, ketika kita semakin sering bertanya tentang masa depan kecerdasan buatan dan apa artinya menjadi “manusia” di dunia yang dikuasai mesin, I, Robot terasa seperti cermin yang jujur dan tidak nyaman. Ia mengingatkan bahwa teknologi bisa membuat hidup lebih aman, tapi juga bisa menghapus apa yang membuat hidup berharga: kebebasan, ketidaksempurnaan, dan kemampuan untuk memilih.
Bagi penggemar sci-fi yang suka cerita dengan makna lebih dalam, I, Robot tetap salah satu yang paling layak ditonton ulang. Ia mungkin tidak sempurna, tapi justru ketajaman pertanyaannya itulah yang membuatnya bertahan—dan semakin relevan seiring waktu berlalu. Film ini bukan tentang robot yang memberontak—ia tentang manusia yang harus memutuskan apakah kita siap hidup bersama ciptaan kita sendiri.

