Review Film Goodfellas: Mafia Scorsese yang Hidup. Goodfellas (1990) karya Martin Scorsese tetap menjadi salah satu film gangster paling hidup dan berpengaruh sepanjang masa. Hampir tiga setengah dekade setelah rilis, karya ini masih sering disebut sebagai puncak genre mafia—bukan karena romantisasi kejahatan, melainkan karena cara Scorsese membuat dunia kriminal terasa nyata, menarik, dan sekaligus mengerikan. Dengan Ray Liotta sebagai Henry Hill, Robert De Niro sebagai Jimmy Conway, dan Joe Pesci sebagai Tommy DeVito yang ikonik, film ini memenangkan banyak pujian kritis, mendapat 6 nominasi Oscar (termasuk Best Picture), dan terus jadi referensi utama bagi film kriminal modern. Di era remake dan franchise yang sering terasa formulaik, Goodfellas masih terasa segar karena narasinya yang dinamis, dialog tajam, dan energi yang tak pernah pudar—mafia Scorsese yang benar-benar hidup. BERITA TERKINI
Sinopsis dan Narasi yang Mengalir Seperti Hidup: Review Film Goodfellas: Mafia Scorsese yang Hidup
Cerita diambil dari buku nonfiksi Wiseguy karya Nicholas Pileggi, menceritakan perjalanan Henry Hill dari remaja Italia-Amerika yang terpesona dunia mafia hingga menjadi bagian integral keluarga kriminal di New York. Dimulai tahun 1955, Henry kecil sudah terlibat dengan Tommy dan Jimmy—dua sosok yang jadi mentor sekaligus sahabat seumur hidupnya. Film mengikuti Henry dewasa (Ray Liotta) saat ia naik pangkat dalam organisasi Lucchese, menikah dengan Karen (Lorraine Bracco), terlibat dalam pencurian besar, perdagangan narkoba, dan akhirnya pengkhianatan terhadap teman-temannya sendiri.
Narasi disampaikan melalui voice-over Henry yang santai dan penuh humor hitam, membuat penonton merasa seperti mendengar cerita langsung dari orang dalam. Scorsese menggunakan teknik freeze-frame, jump-cut, dan transisi cepat yang membuat film terasa seperti hidup—tidak pernah statis, selalu bergerak. Dari pesta malam yang mewah, pertarungan brutal, hingga akhir yang suram di program perlindungan saksi, semuanya terasa autentik dan tak terduga.
Ray Liotta, Robert De Niro, Joe Pesci: Trio yang Legendaris: Review Film Goodfellas: Mafia Scorsese yang Hidup
Ray Liotta sebagai Henry Hill memberikan performa karir terbaiknya—pria biasa yang terjebak dalam mimpi Amerika versi kriminal. Ekspresi wajahnya saat naik daun, jatuh cinta, lalu hancur karena kecanduan narkoba terasa sangat manusiawi. Robert De Niro sebagai Jimmy Conway membawa karisma dingin dan berbahaya—pria yang bisa jadi sahabat terbaik sekaligus ancaman terbesar. Adegan “funny how?” yang ikonik dari Joe Pesci sebagai Tommy DeVito jadi salah satu momen paling menegangkan sekaligus lucu dalam sejarah sinema—Pesci memenangkan Oscar Best Supporting Actor karena peran itu.
Lorraine Bracco sebagai Karen Hill memberikan perspektif perempuan yang kuat dan kompleks—dari istri yang terpesona kekayaan hingga wanita yang akhirnya melihat sisi gelap suaminya. Ensemble cast seperti Paul Sorvino (Paulie Cicero) dan Frank Sivero menambah kedalaman dunia mafia yang terasa seperti keluarga besar tapi penuh pengkhianatan.
Gaya Scorsese: Energi, Musik, dan Realisme Brutal
Martin Scorsese membangun film ini dengan gaya khasnya: kamera bergerak nonstop, voice-over yang langsung bicara ke penonton, dan penggunaan musik pop/rock yang brilian. Soundtrack legendaris—dari “Rags to Riches” Tony Bennett di pembuka hingga “Layla” Derek and the Dominos di adegan mayat di mobil—memperkuat ritme dan emosi setiap scene. Adegan Copacabana long take yang mengikuti Henry dan Karen masuk klub dari belakang sampai meja depan jadi salah satu shot paling terkenal dalam sinema.
Kekerasan digambarkan brutal tapi tidak berlebihan—setiap pukulan, tembakan, atau pengkhianatan terasa punya bobot. Scorsese tidak memuliakan mafia; ia menunjukkan bagaimana dunia itu menarik di awal, tapi akhirnya menghancurkan semua orang di dalamnya.
Kesimpulan
Goodfellas adalah mafia Scorsese yang hidup—energi tinggi, dialog tajam, dan realisme brutal yang membuatnya terasa seperti dokumenter kriminal terbaik. Ray Liotta, Robert De Niro, dan Joe Pesci menciptakan trio legendaris, sementara Scorsese mengarahkan dengan gaya yang tak tertandingi. Film ini bukan sekadar cerita gangster—ini tentang ambisi, pengkhianatan, dan akhir yang tak terhindarkan dari gaya hidup kriminal.
Hingga sekarang, Goodfellas tetap jadi standar emas genre mafia—menginspirasi The Sopranos, The Irishman, hingga film kriminal modern lainnya. Ini film yang wajib ditonton ulang—setiap kali terasa lebih dalam dan lebih menghibur. Mafia belum pernah setidak hidup dan setajam ini. Klasik abadi yang masih terasa segar di tahun 2026.

